I HATE MONDAY
Ternyata bukan saya saja yang merasakannya, setelah saya tanya
teman2 saya yang juga bekerja, mereka berpendapat sama “I HATE MONDAY”
heh, why ?? dunnO, but it is absolutly normal, disaat sedang
enak-enaknya weekend, tanpa sadar, besok sudah hari senin lagi
weleh, sudah terbayang-bayang aja masuk kantor pagi-pagi, duduk di meja
buka komputer, ngeliat jadwal meeting di lotus notes, dan tentu saja, coding lagi
lagi dan lagi, heh ?? rutinitas membosankan namun tidak bisa ditinggalkan, hah
sungguh dilema, terkadang ingin sekali membuat suatu improvement tapi setelah
dilahat lagi laci di meja, waxx, masih 3 project yang belom di garap, wadezig gubraxx
so, kapan inovasinya direalisasikan ? well this is my life now, tapi saya yakin, saya
saya akan keluar dari rutinitas ini jika saatnya telah tiba.
SENIN-JUMAT
———–
7:30-8:00 : jalan dari rumah sampe kantor
8:00-12:00 : bikin kopi, buka komputer, lihat log coding lalu coding lagi
12:00-13:00 : LunCh, dan terkadang lauknya membosankan
13:00-16:00 : Lanjott
16:00-16:30 : Becanda2 gangguin orang kerja
16:30-19:00 : Fitness
19:00-22:00 : Internetan
22 – …. : Caboottt….!!
SABTU-MINGGU
———–
7:30-8:00 : MAEN GAME ONLINE
8:00-12:00 : MAEN GAME ONLINE
12:00-13:00 : MAEN GAME ONLINE
13:00-16:00 : MAEN GAME ONLINE
16:00-16:30 : MAEN GAME ONLINE
16:30-19:00 : MAEN GAME ONLINE
19:00-22:00 : MAEN GAME ONLINE
22 – …. : MAEN GAME ONLINE
Bete skaleeee jika minggu sore telah menghampiri, fuuuihhh…!! kegiatan bermain
dota saya kapan berkembangnya kalo begini, MONDAY, IT’S SUCK BUT IT’S A MUST
DAMN IT…!!
rajasimarmata said,
March 7, 2008 at 11:25 am
permisi numpang berita dulu ya !!!!!
[penting soalnya ini]
tolong disebarkan ya
Wakil Bupati Samosir : “No Comment” Soal Hutan Tele
KETIKA para pecinta lingkungan berteriak marah, lantaran hutan alam Tele dibabat dengan semena-mena, Ober Sagala hanya bisa mengatakan : No Comment. Kasihan! Karena sebenarnya, politisi Partai Demokrat ini punya dua dasar kewenangan, untuk menghentikan penebangan hutan alam itu.
Kewenangan pertama, karena kampung halamannya, Desa Sagala, berada persis di bawah perbukitan hutan Tele. Apabila nantinya hutan itu sudah dipangkas habis, kemungkinan terjadinya longsor sangat besar, dan bisa jadi kampungnya bakal terkubur. Kewenangan kedua, karena Ober Sagala adalah Wakil Bupati Samosir.
Lalu kenapa dia hanya bisa bilang : No Comment ?
Tampaknya Wakil Bupati ini merasa sungkan dan ewuh pakewuh, kalau harus mengeluarkan pendapat yang terkesan mengkritik atau menyalahkan Bupati Mangindar Simbolon. Mungkin dia beranggapan, selaku Wakil Bupati tidaklah pantas baginya menimbulkan kesan kepada pihak luar, bahwa antara dirinya dan Mangindar sudah pecah kongsi.
DARI sebuah sumber yang dekat dengan Wakil Bupati diperoleh informasi yang mengejutkan, ternyata Ober Sagala merasa ditinggal oleh Mangindar Simbolon dalam proses lanjutan proyek hutan Tele. Dia memang pernah dilibatkan ketika PT ESJ, sang investor asal Korea, mempresentasikan berbagai keuntungan dan manfaat yang bakal dinikmati Kabupaten Samosir, apabila hutan Tele dijadikan kebun bunga untuk komoditas ekspor.
Namun dalam proses selanjutnya, sampai kemudian penebangan hutan itu menimbulkan heboh, ternyata Wakil Bupati Ober Sagala tidak dilibatkan lagi. Bahkan yang paling mengejutkan, ternyata Ober Sagala selaku Wakil Bupati tidak memiliki akses terhadap data proyek kebun bunga yang kontroversial itu.
Kenapa bisa begitu? Kok Bupati Mangindar Simbolon jadi main sendiri ? Tidak diperoleh jawaban yang memuaskan dari Ober mengenai hal ini. Dia menolak untuk memberikan jawaban yang jelas.
Sangat disayangkan sikap yang dipilih Wakil Bupati Samosir itu. Menjaga etika politik boleh-boleh saja, namun yang lebih penting adalah tanggung jawab kepada rakyat. Perilaku politisi yang saling menutupi seperti itu hanya berguna bagi karir politik mereka sendiri, tapi bisa menjadi sumber bencana bagi masyarakat.
Sebagai Wakil Bupati, apalagi di era demokrasi ini, Ober Sagala seharusnya bisa membawakan diri sebagai figur yang punya otoritas dan integritas. Jabatan Wakil Bupati itu bukanlah seperti asisten pribadi, yang ikut saja apa kata bos; karena bos tertinggi sebenarnya adalah masyarakat Samosir.
Masih ada waktu bagi Ober Sagala untuk memperbaiki sikapnya yang keliru. Setidak-tidaknya secara internal dia bisa meminta Bupati mengadakan rapat dan kemudian menanyakan perihal hutan Tele. Kalau ternyata hal itu tidak diindahkan oleh Bupati, tidak ada salahnya Ober membuat pernyataan kepada masyarakat; jika memang ada kejanggalan prosedur dalam proses keluarnya izin penebangan hutan Tele.
Kalau Wakil Bupati tetap bungkam, maka masyarakat Samosir dan para perantau Batak di seluruh dunia akan menganggap Ober Sagala ikut bertanggung jawab atas pembabatan hutan Tele.